Penjaga gawang utama Bianconneri tersebut hanya ingin agar timnya tetap fokus menjalani sisa musim ini dan menyebut meraih tiga gelar dalam satu musim atau yang disebut sebagai treble winner adalah target yang sulit diraih. Tapi, Buffon akan kecewa jika klub hanya memenangkan Serie A Italia saja di akhir musim nanti.

Meraih treble winner adalah impian setiap klub Eropa, dimana sejauh ini hanya ada beberapa tim yang mampu menorehkan treble winner. Raihan tersebut sendiri tak lain adalah gelar juara major di tiga kompetisi berbeda dalam putaran satu Musim. Terkait hal ini, Kapten Juventus, Gianluigi Buffon, mengakui bahwa Treble winner adalah target yang sulit diraih.

Kita semua tahu bahwa Juventus berada di jalur yang tepat untuk memenangkan treble winner musim ini. Bianconeri kini unggul delapan poin di puncak klasemen Serie A Italia, mereka juga berpeluang lolos ke final Coppa Italia, dan berada di tren positif pada ajang Liga Champions Eropa.

Banyak pihak yang menyebut bahwa Juventus adalah salah satu kandidat peraih treble winner musim ini, dimana sebelumnya, mereka memang belum pernah menorehkan pencapaian tersebut. Namun, kapten gianluigi Buffon tak ingin hal itu menjadi beban rekan-rekannya.

"Treble winner merupakan target yang sangat besar dan sulit untuk dicapai, memang, perlu menargetkan suatu hal yang besar, tapi di lain sisi, kita juga harus berpikir realistis. Tidak ada yang bisa meremehkan tim seperti Juventus, Real Madrid, atau Bayern Munich, tapi tetap harus realistis dan terus bekerja dengan rasa kerendahan hati."

"Jika Anda tetap rendah hati, tidak ada mimpi yang tak terjangkau, akan tetapi jika kami hanya berhasil memenangkan Scudetto maka itu akan menjadi hal yang mengecewakan," ujar Buffon kepada Mediaset Premium.

Diakui sang manajer asal Spanyol tersebut bahwa Barcelona unggul telak dalam pertandingan tadi, dimana para pemain Raksasa Catalan bermain sangat tenang di menit-menit krusial yang kemudian berbuah tiga gol. Emery sendiri tak mau terus bersedih dengan kegagalan yang dipetiknya sebagai pelajaran berharga ini.

Pelatih Paris Saint-Germain, Unai Emery harus menerima kenyataan pahit setelah tim asuhannya gagal melangkah ke babak perempat final Liga Champions Eropa. Selepas pertandingan leg kedua yang begitu cetar membahana di Camp Nou, mantan pelatih Sevilla inipun kemudian angkat bicara.

Tim arahan Unai Emery yang notabenenya adalah juara bertahan Ligue 1 Prancis sebenarnya memiliki keunggulan empat gol atas Barcelona, berkat kemenangan 4-0 yang mereka raih pada leg pertama di Paris beberapa waktu lalu. Bisa dikatakan, satu langkah mereka sudah berada di babak delapan besar. Namun, Barcelona kemudian menciptakan sejarah yang sangat luar biasa, mereka mencetak enam gol ke gawang Kevin Trapp di leg kedua 16 besar yang berlangsung di Camp Nou, sementara PSG hanya mampu membalas lewat satu gol edinson Cavani.

Skor 6-1 membuat Agregat menjadi 6-5 kemenangan Barcelona yang berhak atas tiket ke babak perempat final. Selepas laga yang berlangsung dramatis tersebut, pelatih PSG, Unai Emery harus mengakui keunggulan tuan rumah.

”Saat kami menganalisa ini, benar bahwa kami melewatkan banyak peluang, babak pertama adalah kesalahan besar kami, dan kami tidak bisa menekan mereka, atau melakukan sesuatu saat menguasai bola. Kami bertahan dengan sangat dalam, dan mereka punya lebih banyak peluang Mencetak gol. Dua gol yang mereka cetak di babak pertama adalah kesalahan kami”

”Di babak kedua, kami bermain lebih tenang, terutama dalam penempatan posisi. Performa kami meningkat dan sempat punya peluang untuk membuat kedudukan menjadi 3-2. Tapi keputusan wasit berlawanan dengan keinginan kami, dan kami kalah di semua sektor pada menit-menit akhir. Barcelona bisa melakukan hal seperti itu, mereka benar-benar tenang saat menyerang kami di menit-menit krusial. Ini adalah pengalaaman negatif bagi saya dan klub, tapi kami harus tetap belajar dari kekalahan ini” Ujar Emery kepada laman resmi UEFA.

Adalah salah satu legenda The gunners, Ian Wright yang berkata demikian. Tak hanya tentang rentetan hasil negatif yang dialami sang mantan, tapi juga menyusul kekalahan agregat 10-2 dari Bayern Munich di Liga Champions Eropa. Bagi Wright, inilah Arsenal terburuk sepanjang sejarahnya.

Arsenal, kini sudah tak lagi dipandang sebagai salah satu raksasa eropa, setelah selalu menjadi tim ‘pelengkap’ di ajang Liga Champions Eropa. Sederet hasil negatif yang mereka alami musim ini bahkan memunculkan pendapat bahwa Arsenal saat ini adalah Arsenal terburuk sepanjang sejarah berdirinya klub.

Sebagaimana diketahui, The Gunners baru saja tersingkir dari ajang Liga Champions Eropa setelah dipermak Bayern lewat agregat 10-2 di babak 16 besar. Kekalahan memalukan tersebut, dengan skor 5-1 di masing-masing leg, memastikan The Gunners tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions Eropa, dan faktanya ini adalah kali ketujuh secara beruntun bagi Meriam London mengalami nestapa serupa.

Situasinya semakin runyam setelah sebelumnya Arsenal takluk di hadapan Liverpool, mereka juga telan beberapa kekalahan dari enam pertandingan terakhirnya. Situasi inilah yang membuat Ian Wright sebagai salah satu legenda klub menarik kesimpulan bahwa Arsenal sekarang merupakan Arsenal terburuk sepanjang sejarahnya.

“Awalnya, saya sempat merasa bahwa mereka bisa membalikan keadaan, tapi setelah kartu merah, semuanya telah berakhir bagi Arsenal. Ini adalah hari yang menyedihkan, karena Arsenal lagi-lagi harus tersingkir di fase yang sama. Sejauh yang saya ingat, musim ini adalah periode terburuk mereka sepanjang sejarah klub.”

“Semuanya terasa seperti akan berakhir, butuh waktu untuk bisa mengembalikan daya juang, semangat, dan determinasi para pemain merka,” ungkap Wright kepada BT Sport selepas partai leg kedua di Emirates Stadium.

Sebagaimana dirilis oleh UEFA, dua negara Eropa yang mengajukan proposal untuk menjadi tuan rumah di ajang Piala Euro 2024 mendatang adalah Jerman dan Turki. Kedua negara diberikan waktu sampai april tahun depan untuk mengkampanyekan bagaimana mereka bisa menyajikan kompetisi tersebut.

Piala Euro adalah salah satu kompetisi yang sangat dinantikan para penikmat sepakbola, dimana kompetisi ini digelar oleh UEFA sekali dalam empat tahun. Tak heran jika banyak negara yang berebut untuk menjadi tuan rumah penyelenggara turnamen ini. Tapi uniknya, untuk edisi Piala Euro 2024 mendatang, sejauh ini hanya ada dua negara yang mengajukan diri.

Seperti diketahui, terakhir Piala Euro berlangsung pada tahun 2016 kemarin, yang mana Prancis menjadi tuan rumah, mereka terbilang berhasil, meski secara prestasi hanya puas finish sebagai runner up usai dikalahkan Portugal pada babak final. Sedangkan, selanjutnya di tahun 2020, UEFA telah menentukan bahwa kompetisi akan digelar di banyak Kota-Kota besar seperto Roma, London, Madrid, dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk tahun 2024, UEFA sendiri telah membuka kesempatan bagi negara manapun yang merasa mampu untuk mengajukan diri sebagai Tuan rumah piala Euro 2024 mendatang. Fakta mengejutkan ketika Asosiasi Sepakbola Tertinggi di Eropa itu mengumumnkan bahwa sejauh ini hanya ada dua negara yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah di ajang Piala Euro 2024 mendatang.

Ya, kedua negara tersebut adalah Jerman dan Turki, selain keduanya, tidak ada lagi proposal yang diterima UEFA. Jerman sendiri sempat menggelar turnamen Piala Dunia dengan baik pada tahun 2006 silam. Sedangkan Turki sempat mengajikan diri untuk menjadi tuan rumah Euro 2008 dan 2012, sayangnya, proposal mereka berakhir penolakan.

Dengan demikian maka Jerman dan Turki memiliki waktu hingga April 2018 untuk memproduksi kampanye bagaimana mereka akan bisa menggelar turnamen nanti.